Wednesday, April 25, 2007

Masa Depan yang Pendek

Dua hari gue gak nulis novel. Tapi, selama dua hari gue dapat banyak inspirasi yang membantu dalam menuliskan novel gue. Setidaknya di kepala gue, plot cerita sudah mulai terang. Meski yang rada menyebalkan adalah plot yang makin terang itu malah makin enak diceritain di sekuel. Buset sekuel, buku pertama aja masih babak satu! Tapi nggak apa-apa, gue jadi justru tau mau mengarahkan karakternya ke man, tinggal cari gimana realisme dan kewajaran yang mau gue tulis di sini.


Salah satu momen yang mengisi kepala gue adalah ketika gue nonton konser Good Charlotte (gak usah dicela, emang gue terpaksa harus nonton band banci ini). Di situ banyak sekali muka-muka yang menakjubkan. Ada reporter yang punya bodi foxy dan rasanya pengen banget dientot, ada anak-anak yang tingginya cuma beberapa senti dari pinggang gue, ada juga reporter kampus yang entah kenapa minta-minta kartu pers gue. Setidaknya gue dapat ekspresi karakter yang unik malam itu meski gue sama sekali nggak menikmati musiknya.

Dari karakter-karakter itu gue bisa meraba-raba (maunya sih raba toket) kira-kira gimana perkembangan generasi fajar baru Indonesia ke depan. Muka-muka mereka sedikit mewakili, meski mungkin lebih baik gue jalan lagi ke mana buat liat-liat sisi lain dunia. Wajah-wajah itu memang jauh drastis bahkan dari generasi lahiran 80-an yang IMO nggak terlalu jauh dengan generasi 70-an ke belakang.

Generasi 90-an jelas kelihatan beda. Mereka cerdas sekaligus ceroboh, tampan dan cantik sekaligus kumal dan berpenampilan sampah, wangi sekaligus anyrinya menusuk hidung. Generasi ini rajin berdoa tapi tidak tahu sesungguhnya untuk apa mereka berdoa, dan tidak bakalan menemukan sebabnya sebab memang tidak pernah ketemu. Makanya mereka cinta akan kesenangan dan cinta akan kerja keras. Generasi gue sudah begitu, tapi generasi ini bakal lebih gokil lagi dalam mengisi relung kehidupan negeri ini. Ada wajah baru, kepintaran aneh yang baunya gak gue kenal. Hidup mereka dramatis, tipis namun berat.

Yah, di novel gue generasi lahiran 90-an akan banyak mendapat tempat. Karakterisasi mereka akan gue bikin mewakili generasi yang enerjik dan rela ambil risiko, melawan generasi gue ke belakang yang lebih tenang dan condong kompromistis. Yang tua mungkin lebih tangguh, tapi yang muda tidak lelah melawan. Jadi ingat pertandingan MU lawan Milan yang ajaib itu! Meski MU vs Milan itu generasi 70-an vs generasi 80-an, tapi keadaannya mirip-mirip lah dengan bayangan gue soal masa depan yang pendek itu.

2 comments:

irianto said...

ah ngehe lo le; pengen toce dengan si foxy lady aja disublimasi ampe segitunya

pseudo-post-apocalyptic said...

sublimasi apaan .. kan jelas2 gw tulis rasanya pengen dientot