Monday, June 9, 2008

Terima Kasih

Terima kasih untuk kunjungan teman-teman selama ini. Tapi, sekarang gue udah punya duit cukup buat beli domain sendiri gak kayak lo pada yang pelit dan bisanya nebeng doang di blog gratisan. hehehe piss!

Mulai hari ini semuanya pindah ke link di bawah.

http://blog.oligark.NET/

kembali ke ngatas

Sunday, June 8, 2008

Pesta! Pest! Pes! Pe! P!



















dateng cui!


kembali ke ngatas

Friday, June 6, 2008

Gue Lagi Groovy



^ enak-enak.

kembali ke ngatas

Thursday, June 5, 2008

Hari Kesekian Kerja

Enaknya kerja begini. Nggak ngapa-ngapain dapet duit.

siul Mode: ON

kembali ke ngatas

Tuesday, June 3, 2008

Hari Pertama Kerja

Ada waktu untuk seorang manusia untuk berubah. Dalam waktu satu dua minggu belakangan ini, yang ada di benak saya adalah soal tempat kerja baru saya. Selalu terngiang di kepala bagaimana aura di tempat baru nantinya ini. Semua baru bayangan. Kalau masih di bayangan kadang jadinya sama dengan sebuah pertanyaan, dan pertanyaan itu baru terjawab ketika hari yang dinanti-nanti itu tiba.


Pagi ini saya bangun sesuai dengan rencana. Agak sulit untuk bangun pagi lantaran saya terbiasa bangun di atas jam 9. Waktu yang mungkin orang-orang kantoran lain sudah berada di awal rutinitas mereka. Rutinitas yang bahkan terasa sangat menyebalkan. Hari ini saya membiarkan diri saya lepas dari kebiasaan lama, bersantai-santai saat orang lain sudah mulai banting tulang. Saya merelakan diri saya untuk berkeringat bersama orang-orang itu, meski berkepentingan beda.


Kadang dalam sebuah momen, sebuah detik-detik menuju momen itu lebih memiliki rasa ketimbang momen itu sendiri. Orang menjadi tegang saat hari-hari menuju ujian atau sidang skripsi misalnya. Ketika sedang menjalani sidang itu sendiri, kadang malah tidak setegang penantiannya. Mungkin tidak setegang waktu saya hendak disunat atau hendak operasi gigi. Namun, yang namanya tegang yah tetap saja tegang.


Baru melangkah beberapa meter dari rumah, saya secara tiba-tiba mengambil keputusan untuk kembali ke rumah. Saya seketika itu juga merasa grogi dan takut hingga memutuskan untuk tidak ke kantor yang bertempat di Warung Jati tersebut. Saya bohong. Saya memang terpaksa pulang lagi, tapi bukan lantaran keputusan bodoh tersebut. Mungkin jika ini saya sepuluh tahun lalu, bisa saja kejadian seperti itu yang terjadi. Saya terpaksa pulang karena dompet saya ketinggalan.


Keputusan mengambil dompet di rumah sebenarnya punya sedikit makna. Saya bukan orang yang terlalu tergantung dengan apa yang jadi milik saya. Tidak seperti kebanyakan orang, saya bukan tipe orang yang panik kalau mendadak sadar telpon genggamnya tertinggal. Tapi, hari ini berbeda. Saya merasa bahwa ada hal yang mesti dipikirkan lebih dari sekadar membiarkan benda-benda yang bisa penting itu dibiarkan tertinggal. Sebuah dompet yang tertinggal bisa menimbulkan berbagai masalah ke depan. Tidak tahu masalah apa, tapi setidaknya masalah-masalah itu bisa dihindari dengan tidak dibiarkan di rumah saja.


Setelah saya mengambil dompet itu, saya menunggu bis di halte. Sudah terlalu lama saya terakhir melakukan ini di tempat tersebut. Terakhir sekali saya rutin melakukan ritual menunggu bis sebelum jam tujuh pagi adalah ketika saya masih SMA. Meski sudah lama berlalu, ternyata pemandangannya sama saja. Wajah-wajah itu sama, wajah-wajah menanti apa yang akan terjadi pada diri mereka hari ini. Apakah akan ada keuntungan besar atau justru musibah yang menimpa. Orang-orangnya tentu berbeda. Tapi ekspresi-ekspresi itu tetaplah sama.

Ekspresi itu juga masih memendar ketika saya berada di dalam bis. Semua wajah memiliki ekspresi itu, meski status dan pekerjaannya masing-masing berbeda. Tapi, lama kelamaan saya tidak lagi memperhatikan wajah itu. Justru kini saya merasa harus mencari cermin dan melihat apa yang terpancar di wajah saya. Saya merasa ada yang berubah. Pekerjaan jelas bakal berubah. Tempat kerja juga pasti tidak akan sama lagi. Selain itu juga saya merasakan sensasi yang berbeda. Ini bukan lagi soal tempat baru, suasana baru, teman-teman baru. Ini adalah sebuah jalan yang baru!


Saya percaya bahwa setiap manusia itu memiliki jalan. Tapi, bukan berarti segala sesuatunya sudah diatur dengan ajeg. Setiap manusia punya andil dalam mengisi perjalanan itu. Di satu sisi mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka bisa meraba-rabanya. Sensasi yang sama seperti yang saya rasakan saat ini. Saya tidak tahu masa depan saya, tapi saya bisa mereka-reka. Kalau perlu, saya yang nanti menentukan jalan itu berdasarkan rekaan-rekaan itu.



kembali ke ngatas

Monday, March 24, 2008

Nggak ada Nyali dari Pool

Buat gue Liverpool mau gimana caranya tetep nggak ada nyali. Setiap ketemu United selalu main kayak banci. Nggak berani kreatif dan lebih menajamkan serangan. Padahal mereka punya pemain-pemian yang cukup oke.


tapi lepas dari itu fansnya juga norak ahhaha

Gw kok punya feeling aja klo suatu hari nanti man united bakalan ketahuan punya skandal seperti skandal calciopolinya Juventus. Dengan mengkartumerahkan mascherano pada saat kita ketinggalan 1-0 sama aja kayak ngebunuh peluang kita menang malam ini. Sebagai Tim Away mestinya di treat sebagai tamu dan diperhitungkan dulu masalah kartu, mana peringatannya??? padahal si Mascherano cuma mempertanyakan keputusan wasit aja. Bennet, ke laut aja loe!!!


EPL is Doom!! Liga ini sangat rakus akan uang, dan kita hanya terpaku menyalahkan permainan tim kita??? ABSURD!!!! sepakbola industri t**-kucing!!!! Fans MU ga perlu bangga, timnya dimenangkan karena uang!!! dan kita selalu menjadi sosok santa yang baik menerima kekalahan dengan hati yang besar!!! f***!!!!!!

admit it, you lads played the suckest football ever.


kembali ke ngatas

Tuesday, March 11, 2008

Work Hard, Party Hard











Nuff Said!
Come All! Bring the party ON!




kembali ke ngatas

Give You The Music

Various - Fabriclive. 35: Marcus Intalex [2007]


Label: Fabric (London)
Catalog#: FABRIC 70P
Format: CD, Mixed, Promo
Country: UK
Release Date: 21 Jun 2007
Genre: Electronic
Style: Drum & Bass
Credits: DJ Mix - Marcus Intalex
Note: Store Date: fabric first members: 07/08/07 uk/r.o.w. retail: 20/08/07 usa: 18/09/07

Marcus Intalex, king of the more soulful and innovative side of drum'n'bass, sits in a slightly uncomfortable position on his throne. On one hand, he's involved in a vibrant, well-supported scene that allows him to play music around the world; on the other, he doesn't quite fit in with the bulk of the scene. But why should he have to compromise himself to the popular tunes that now reign on the d'n'b charts? Sure, the kids want to hear them, but he's not a kid anymore… /Fabric London

Download here:
rapidshare
Pass: iRis
mirror: depositfiles

Tracklisting:

01. Calibre ft. Lariman Over Reaction - Signature
02. Calibre All The Days - Signature
03. Lynx ft. Kemo Global Enemies Soul:r
04. Commix Faceless (Marcus Intalex Remix) Shogun
05 Jonny L Come Here Mr L Records
06. Amaning vs. Dubwise Smash V.I.P. Soul:r
07. Soulmatic Self Belief Good Looking
08. Calibre ft. DRS Hustlin’ - Signature
09. Calibre Mr Right On - Signature
10. Deadly Habit Synesthesia (Theory Remix) - Tentative
11. Breakage Clarendon Digital Soundboy
12. Alix Perez and Lynx Allegiance Soul:r
13. Zero Tolerance ft. Steo Refusal Soul:r
14. Mistical Time To Fly Soul:r
15. Duo Infernale Feeling Blue Soul:r
16. Instra:mental Pacific Heights - Darkestral
17. Bango Collective ft. Kemo and Dennis Jones Apocalypse Soul:r
18. Mistical Groove Me Soul:r
19. Alix Perez and Sabre Solitary Native SGN:LTD

Sunday, January 13, 2008

Mereka dalam Karya Gue

Sebelum novel gue kelar, gue mau memberi tahu kepada khalayak mengenai media apa saja yang jadi inspirasi novel gue. Daftar ini hanya menyangkut media-media kreatif, buku-buku esoterik atau buku ilmiah yang sifatnya bukan fiksi nggak gue masukin. Di sini gue cuma mau memberi sebuah perspektif pada orang kalau novel yang gue tulis itu nggak lepas dari sejarah bacaan gue. Amat mungkin ada beberapa kemiripan antara novel gue dengan karya-karya berikut. Gue emang mengadaptasi plot, karakterisasi, emosi, gaya penulisan, dsb. Tapi, gue berusaha supaya realitas dan mitologi di dalam novel gue tetap unik.

Buku-buku yang memengaruhi:

Siddharta – Hermann Hesse
Cantik itu Luka – Eka Kurniawan
Godlob – Danarto
Factotum – Charles Bukowski
Choke – Chuck Palahniuk

The Invisibles – Grant Morrison
Watchmen – Alan Moore
The Killing Joke – Alan Moore
Infinite Crisis – Geoff Johns
Y: The Last Man – Brian K. Vaughan (nggak terlalu ngaruh sih, maybe next)

Film/Serial:

The Driver – Walter Hill
Collateral – Michael Mann
The Killing a Chinese Bookie – John Cassavetes
Heat – Michael Mann

(semuanya gue curi mood-nya aja)

Lost – Damon Lindelof, J.J. Abrams, Jeffrey Lieber
X-Files – Chris Carter
Coffee and Cigarettes - Jim Jarmusch
Se7en – David Fincher (jempol buat penulisnya juga; Andrew Kevin Walker)
El Topo – Alejandro Jodorowsky
8 ½ - Federico Fellini
Don’t Torture a Duckling - Lucio Fulci


Harus Baca:

Identity Crisis – Brad Meltzer
52 – keroyokan Geoff Johns, Grant Morrison, Greg Rucka, Mark Waid, Keith Giffen
Sandman – Neil Gaiman.
Nikopol Trilogy – Enki Bilal
Flex Mentallo – Grant Morrison
Hellblazer - Andy Diggle
Mystic River - Dennis Lehane



Ada rekomendasi tambahan?


kembali ke ngatas

Friday, January 4, 2008

Tip Paling Keren Abis dari Gue yang Keren Abis

Belum jadi penulis, gue mau sok ngasih petunjuk buat menulis. Semacam bekal menulis di kemudian hari gitu deh. Pokoknya dari pengalaman gue, hal-hal ini berguna banget. Setidaknya buat gue. Terserah mau percaya apa nggak.

1.Punya komputer. Kalau nggak punya yah minjem atau di rental. Kalau merasa lebih enak ngetik pakai mesin tik, terserah. Tapi, menulis/mengetik menggunakan komputer jelas buat gue lebih enak. Terima kasih gue lahir di abad ke-20. Mau pentium atau celeron, nggak ngaruh. Pastinya yang penting tidak ada virus. Makanya, jangan asal buka email dan akses situs yang nggak jelas keamanannya.

2.Punya ide untuk menulis. Kalau nggak punya jiplak saja asal-asalan. Kan sekarang lagi keren tuh jadi plagiat. Sejelek-jeleknya tulisan lo, yang penting jadi deh. Nggak ngalor ngidul. Mau musuhya di terakhir ditelen pantat, mau jagoannya jadi banci, nggak penting. Novel yang ceritanya adalah patung isi jabang bayi saja bisa dijual dan tega-teganya dapet status best seller.

3.Punya waktu untuk menulis. Hidup lo itu 24 jam sehari. Malesnya mungkin bisa 23 jam. Tapi setidaknya 1 jam bisa kepake buat nulis. Dalam sejam lo nulis sehalaman saja, maka dalam setahun lo bisa bikin novel tebal. Sejam bisa bikin apa saja sobat. Bikin cerpen bermutu, bikin sketsa wajah kalau lo berbakat, bikin lo ama cewe lo keringetan (treadmill bersama), bikin lawakan garing, bikin sebuah post nggak bermutu di blog nggak genah, bikin daftar kejelekan orang-orang yang bikin lo sakit hati (not me, it's not about me i said asshole!)

4.Sebisa mungkin lo ngetik di sampingnya ada barang-barang bekas yang bisa lo lempar atau lo rusak. Kalau suatu kala mati lampu atau lo punya kebiasaan beternak virus dan kita virus-virus itu tiba-tiba ngamuk dan lo nggak bisa apa-apa, barang-barang itu jadi sesuatu yang pas. Banting-banting aja! Kalau barang-barang itu nggak ada di dekat lo, tembok bisa jadi tempat melampiaskan.

5.Kalau pegel nulis, minta cewek lo mijitin. Kalau nggak ada cewe yah carilah. Kalau lo cewe, jangan cari cewe juga. Kasihan kalau cewe-cewe di bumi tercinta surga wanita cantik ini banyak yang lesbi. Gue ntar dapet apa kalau semua jadi lesbi! Kalau bingung nyari di mana, ubek-ubek friendster atau facebook atau mencariteman.com atau apalah. Di liveconnector juga banyak abg-abg yang kesepian, sikatin aja!

6.Andai malas punya pacara, carilah hiburan. Sebenarnya ini raga nggak nyambung sama dunia penulisan. Tapi, kadang hal kayak gini tetap perlu diperhatikan. Non teknis gitu deh! Hiburan penting. Kalau lagi mumet, tidak ada salahnya membuka forum bokep ala pornBB. Sedot saja semua kalau perlu! Kalau hiburan seksual digital dirasa kurang pas sebagai pelipur lara, ke mal saja mantengin paha-paha mulus. Kalau hiburan seksual mau digital atau yang kelihatan nyata di depan muka juga kerasa kurang pas, gue rasa ultimate entertainment sekarang ada di diri nintendo. Tepatnya itu berada di wii. Di situ kita bisa jumpalitan ke sana ke mari hilangin stres. Asiknya lagi lo maen berdua. Lagi maen tenis, tendang aja biji lawan lo! Ntar juga kalah.

Bersambung lain kali kalau stres lagi …


kembali ke ngatas

Thursday, January 3, 2008

Selamat Datang di Interweb

Kalau gue perhatiin, apa yang gue tulis hampir 80% disarikan dari dunia maya. Gue termasuk pribadi yang jarang baca buku teks. Maka, ketika ada sesuatu yang gue tertarik untuk baca, gue ngintip-ngintip lewat dunia maya. Kemarin gue penasaran sama buku-buku chicklit, karena merasa terlalu manly untuk membelinya langsung, gue ngunduh saja. Dan, memang dunia maya itu semacam the source. Nyari apa saja kecuali pacar semolek Laudya Bitchya Bella semuanya ada. All the geekest stuffs to the lamest drugs are here buddy!

Bayangin aje, bahkan gue bisa dapet buku-buku soal soma, esoterik, riwayat peradaban Maya, dsb. Gokilan deh! Nggak ngerti apa mungkin ke depan generasi penulis akan banyak menggunakan metode dunia maya sebagai cara penulisan mereka. Siapa tahu. Harusnya dengan bergelimangan data dan inspirasi ini karya-karya yang lahir juga dahsyat dong. Nggak seperti novel-novel nenen gembel yang kalau diperhatikan seperti cerita sinetron dibukuin saja. Bleh!

kembali ke ngatas

Friday, December 28, 2007

I'm Below Par

Menyebalkan. Gue sudah nulis bab demi bab, revisi berkali-kali bahkan merombak mood cerita sampai gue sebal sendiri. Tapi pada akhirnya ketika gue baca ulang hasilnya tetap mengecewakan. Nggak tahu kenapa, semuanya terasa palsu. Gue baca novel-novel lain nggak sepalsu punya gue. Buntu anjing! Kenapa nggak buntu dari pertama gue bikin, kenapa mesti muncul ketika gue udah nulis sebanyak ini. Ngentot. Dewa inspirasi turunin perempuan seksi buat gue ewe dan memecah kebuntuan kreativitasan di kepala gue.

Entah kenapa gue jadi benci sama kreasi gue sendiri. Kalau seorang penulis membenci tulisannya sendiri, lalu apa lagi yang tersisa dari dirinya. Nggak tahu kenapa gue bisa seresisten ini terhadap tulisan sendiri. Kadang jadinya nggak semangat buat nerusin. Apa gara-gara gue ikut workshop pelatihan menulis di mana gue cuma nebeng temen gue yang sebenernya dia yang dapet tapi karena boleh bawa temen gue cuma ngatut.

Tulisan yang gue buat untuk kualifikasi workshop itu buat gue sudah merupakan materi emas. Emang sombong dan tengik sih, tapi mau gimana. Gue belum pernah merasa terharu baca tulisan sendiri (kalau ada yang mau nyiram gue pake bensin dan bakar badan gue dipersilakan). Tapi yang lulus rata-rata materinya sori-sori aja gembel kadut. Apa emang selera gue lain atau emang tulisan gue jauh lebih tai dari tulisan mereka hingga nggak layak lolos. Tapi gue rasa ini bukan sikap baik. Nggak bisa lah kebencian merusak diri sendiri.

Mungkin ada mars buat gue di mana isinya adalah orang-orang yang tampangnya sama dan otaknya sama hingga tulisan gue dikasih pulitzer oleh orang-orang aneh itu sampe tujuh belas tahun berturut-turut. Gue tetap melanjutkan menulis seburuk apapun hasilnya ntar. Tapi, gue menjamin tulisan gue akan mengalami neraka panjang baik ditelantarkan atau dirombak terus dan menerus. It’ll be hell of fuckin’ murderous shit ß gue ga tau artinya itu apa. Sok-sokan aja.


kembali ke ngatas

Wednesday, December 19, 2007

Back to Scratch

Back to scratch! Workshop dan kesibukan dsb udah selesai, kembali menulis dengan giat!

kembali ke ngatas

Monday, December 3, 2007

Menuju Level Berikut

Dari beberapa bulan yang lalu gue selalu menyemangati diri gue dengan berkata: to the next level! Ujaran itu dimaksudkan bahwa dunia malasku dan dunia santaiku sudah perlu diakhiri. Nggg .. nggak bisa diakhiri juga sih, secara santai itu sudah integral dan nggak tahu caranya dicabut dari diri gue. Tapi soal malas memang perlu dicoret. Temen gue bernama Hosea pernah bilang kalau Jogja itu tempat yang enak buat seks dan kemalasan. Gue bisa mengatakan kalau Jakarta juga seperti itu (di masa kuliah). Tapi masa kuliah gue sudah lewat. Gue perlu hidup dengan cara yang lain: to the next level!

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan hidup gue. Gue bisa memenuhi kebutuhan hidup gue dengan mandiri dan juga bisa hidup dengan santai tanpa mikir pusing seperti yang gue lihat di orang-orang yang seusia gue. Rambut gue menipis bukan berarti gue pusing mikirin tetek bengek seperti dikibulin orang, diselingkuhin, kemacetan yang rasanya tiada akhir, dan hal-hal yang buat gue hidup terlalu sayang kalau isinya hanya itu saja. Gue mikir, tapi hanya dalam konteks yang metafisis. Life is short, have sex with it, don’t just jerk with it!

Ketika gue mulai nulis, itu adalah satu cara gue untuk naik ke level selanjutnya. Sebenarnya gue sudah nulis sejak SMA. Cerpen pertama yang dimuat itu di majalah HAI. Tahun berapa gue lupa. Selanjutnya gitu-gitu saja. Cerpen-cerpen hanya disimpan. Sempat dikirim ke mana-mana tapi nggak ada yang dimuat. Entah karena nggak cocok bahasa sastranya atau memang itu karya sampah gue nggak tahu. Tapi, itu nggak terlalu penting. Hal terpenting adalah menyelesaikan novel gue.

Blog ini memang sudah lama gue buat, tapi novel gue yang lagi gue jalanin secara teknis baru jalan dari awal November kemarin. Rada lama karena ini itu, tidak bisa jadi alasan. Dulu sekali ketika blog ini dibuat gue sedang membuat novel yang lain. Tapi, lantaran terlalu rumit, mentok di mana-mana. Lagian, siapa juga yang mau baca novel pseudo-revolusioner-post-apokaliptik-science-mystery-fiction. Sulit untuk meneruskan novel seperti itu di dunia sastrawi negeri ini.

Novel lama itu gue stop. Butuh lebih banyak kontemplasi, dan mungkin pada umur 30-an baru bisa gue selesaikan karena butuh kematangan spiritual dari gue (tai babi!). Novel ini gue bikin karena cenderung lebih ringan. Jadinya paling novel mistis medioker aja lah, nggak perlu muluk-muluk. Tapi, progresnya cukup oke. Gue sudah banyak nyari literatur soal mistisme, demonologi, mitologi dari Mesir sampai Babylonia, dan lain sebagainya. Gue juga dibantu teman untuk mengontrol penulisan biar nggak terlalu makan waktu. Hari ini gue nulis lagi dan sekaligus mencari bahan-bahan bacaan untuk menebalkan novel itu secara sastrawi.


kembali ke ngatas

Monday, November 26, 2007

Damn you scousers!

I like this joke:

Three Liverpool Supporters were in a pub and spotted a United fan at the bar. The first one said he was going to piss him off. He walked over to the United fan and tapped him on the shoulder.

"Hey Manc, I hear your Cristiano Ronaldo is a poof".
"Really? I didn't know that".
Puzzled, the Scouser walked back to his buddies.
"I told him Ronaldo was a poof and he didn't care"!
"You just don't know how to set him off, watch and learn".
The second Scouser walked over and tapped the United fan on the shoulder.
"Hey Manc, I hear your Cristiano Ronaldo is a transvestite poof"!
"Oh, Christ I wasn't aware of that, thanks".
Shocked beyond belief, the Scouser went back to his buddies.
"You're right. He is unshakeable!"
The third Scouser said "No, no, no, I will really piss him off, you just watch".
The Scouser walked over to the United fan, tapped him on the shoulder and said.........

"Hey Manc I hear your Cristiano Ronaldo is a Liverpool Supporter!"
"Apparently so. Just as your mates said earlier"


kembali ke ngatas

Sunday, November 25, 2007

Perempuan dalam Kulkas

Perempuan dalam kulkas (Women in Refrigerators) itu adalah sebuah tema kenapa perempuan senantiasa disiksa, dikerjai, dan dibunuh dalam sebuah komik. Bahasan itu (dan juga memberi daftar komik yang melakukan itu) terdapat di dalam sebuah situs. Gail Simone yang membuat situs ini, Women in Refrigerators itu mengacu pada sebuah kejadian di komik Green Lantern di mana pacarnya dibunuh dan mayatnya disesakkan ke dalam kulkas.

Situs ini jadi dorongan gue sekaligus kritik kenapa dalam banyak cerita petualangan selalu perempuan yang jadi obyek. Kalau baca postingan di blog gue, maka akan tersirat bahwa novel gue akan memakai alat plot yang sama dengan kecenderungan yang ada. Tema-tema perempuan dalam kulkas memang jadi sesuatu yang “biasa” di dunia sastra/komik/film. Baru kemarin gue nonton film Shanghai Noon, dan di situ kelihatan banget penyudutan itu.

Perkembangan novel gue sendiri lumayan signfikan. Gue sudah bisa membakukan sebuah plot yang rigid. Dengan plot ini gue akan lebih jelas mau mengarahkan cerita ini ke man. Pada dasarnya memang masih kelihatan sebuah tema perempuan dalam kulkas, tapi sedapat mungkin gue mau menaikkan itu ke permukaan. Novel gue rencananya terdiri dari 13 babak (12 babak cerita + 1 babak flashback). Tokoh utamanya satu polisi (meralat istilah detektif yang gue pakai sebelumnya), anak muda berusia 18 tahun, Anubis dewa kematian, dan beberapa tokoh-tokoh yang gue comot sekenanya dari mitologi-mitologi dunia.


kembali ke ngatas

Friday, November 23, 2007

Just Tell Me Why

Tell me why I must write a blog and why I must write a novel? Because I can? Gimme some thing for me to think about it!

Thursday, November 22, 2007

No Surprises dengan Mellotron?

Mellotron itu alat musik. Alat musiknya kayak apa dan suaranya kayak gimana bisa liat di yutub yang gue tag di sini. Tiba-tiba gue bikin cerita soal Mellotron karena gue suka sekali lagu Mellotron Scratch yang dibawakan oleh Porcupine Tree. Enak abis. Kebetulan Mellotron itu jadi semacam alat musik yang jadi ikon musik progresif di era 70-an. Kalau melihat video di yutub di bawah emang nggak banget. Tapi, jujur saja banyaknya lagu yang ambient effect di lagu Mellotron Scratch itu oke bener!

Gue jadi membayangkan kalau lagu No Surprises dibawain pakai Mellotron. Lagu-lagu Radiohead emang sudah eviden, berkarakter dan nggak bisa diuba-ubah lagi. Tapi, sesekali pemusik iseng mau bikin itu kan nggak apa. Lagu No Surprises ini baru semalem gue denger lagi, dan ini jadi lagu yang pas buat gue masukin ke babak-babak terakhir novel gue. Gimana masuknya? Ada deh.



kembali ke ngatas

Wednesday, November 21, 2007

Cabiria Macabre

Gue jatuh cinta waktu liat gambar poster film ini seperti terlihat di profil gue. Gambarnya adalah seorang anak kecil yang jadi sesembahan buat Dewa Moloch. Plot ceritanya seperti ini:

"Three centuries before Christus. Young Cabiria is kidnapped by some pirates during one eruption of the Etna. She is sold as a slave in Carthage, and as she is just going to be sacrificed to god Moloch, Cabiria is rescued by both Fulvio Axilla, a Roman noble, and his giant slave Maciste. Maciste is captured just after having confided Cabiria to Sophinisbe's safe keeping, while Fulvio Axilla manages to escape from Carthage. Ten years went away with Punic wars before he is able to come back to Carthage..."

Film ini disebutkan menjadi inspirasi DW Griffith buat bikin Intolerance. Dan, tahu sendiri film-film DW Griffith jadi inspirator banyak sineas setelah dia. Walau film-film Griffith itu politically wrong, tapi secara sinematis tetap diacungi jempol. Kalau seorang maestro seperti Griffith bisa suka sama Cabiria, maka film itu patut diperhatikan.

Cabiria emang dilihat sekilas punya set yang wah. Gue terkencing-kencing melihat tampilan patung Moloch. Moloch sendiri merupakan dewa berbentuk banteng. Deifikasi person berbentuk mirip banteng juga terjadi di beberapa mitologi. Seperti kalau kamu baca buku Negara Kelima karangan ES Ito, di situ akan diterangkan banyak soal kebantengan itu. Tapi, yang paling gue inget bentuk dewa kebanteng-bantengan ini adalah dari game Indiana Jones: The Fate of Atlantis. Itu game terbaik setelah Grim Fandango kalau menurut gue.

Di Indiana Jones: The Fate of Atlantis kita memang disuruh mencari reruntuhan Atlantis. Tapi, dari segala elemen cerita di game itu, bagian Indiana Jones berhadapan dengan mesin pembuat Tuhan adalah sesuatu yang menarik. Di situ dia akan bertemu dengan ruh Nur-Ab-Sal dan konfrontasi dengannya. Bentuk ruh Nur-Ab-Sal itu juga seperi Moloch, ada tanduknya. Di komik Watchmen sendiri Moloch adalah super villain yang punya kekuatan ilmu hitam.

Maka, ketika gue lihat di Cabiria ada patung Moloch, film itu harus gue donlot dan gue tonton. Sebagian dari novel gue juga akan ada elemen Moloch, bisa karakter atau juga bisa momen yang diambil/diinspirasikan dari Cabiria. Munculnya pasti di menit-menit akhir di pembabakan novel gue. Untuk sementara itu berkaitan dengan iblis bernama Buer, tapi ke depan mungkin akan ada perubahan.


kembali ke ngatas

Monday, November 19, 2007

Ketololan Berlipat-lipat

Kita yang bikin sebuah jargon, kita yang juga menaatinya. Jargonnya berbunyi: hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tadi pagi ada keledai yang jatuh ke lubang yang persis sama dua kali. Keledainya banyak, beberapa malah sudah bisa nyetir truk. Goblok deh pokoknya. Beberapa bulan lalu ada truk yang nggak bisa masuk ke pelataran sebuah perumahaan karena buntutnya yang panjang nyangkut di gundukan yang menghubungkan jalan umum dengan pelataran. Akibatnya, karena badan truk itu panjang dia melintang di jalanan. Truk nggak bisa ke mana-mana karena saat dia melintang semua kendaraan yang tidak pernah mau sabar sampai kiamat pun itu menumpuk di sekitaran truk. Akibatnya yah macet, ya iyalah.

Kejadian di atas terjadi lagi tadi pagi. Sama persis. Tolol banget kan. Coba bayangin di tempat yang sama dengan kru yang sama dengan satpam yang sama dan dengan aparat yang sama tapi mereka masih memperbolehkan sebuah truk maksa masuk ke pelataran perumahan yang belum jadi itu. Mending truknya lagi gotong besi-besi berat atau beton-beton yang aduhai melelahkan kalau digotong. Ini mereka cuma ngangkut kayu kaso yang disusun buat alas batu atau beton. Tinggal diangkut pakai kuli aja itu bisa lagi nggak perlu dianterin ke dalem perumahan. Males banget. Pakai mobil biasa juga bisa.

Kegoblokan tiada henti, mereka masih tereak-tereak minta perubahan. Susah memang menggiring keledai buat bikin negeri ini jadi adidaya. Dari atas sampai bawah keledai, ke mana manusianya.


kembali ke ngatas